Shalat Tarawih Tercepat Cukup 10 Menit 23 Rakaat Selesai

|

Berapa waktu rata-rata yang Anda butuhkan untuk menjalankan salat tarawih? Tergantung, tentunya. Mau yang 11 atau yang 23 rakaat. Jika 23 rakaat, biasanya butuh waktu sekitar 25 menit hingga satu jam. Jika 11 rakaat, bisa lebih cepat dari itu.

Beda cerita dengan salat tarawih di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) di Blitar, Jawa Timur. Namanya Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Di pondok pesantren ini, cukup 10 menit untuk menjalankan salat tarawih 23 rakaat! Kabarnya, salat tarawih di ponpes tersebut yang tercepat di dunia!

Gerakan dalam salat ini memang cukup cepat dibanding shalat tarawih pada umumnya. Dua rakaat hingga salam, hanya dilakukan sekitar 35-40 detik! Dengan bacaan yang cepat pula. Sehingga salat tarawih beserta dengan witirnya, bisa selesai sebelum pukul 19.00 WIB atau sekitarnya. Berikut videonya

Salat Tarawih Tercepat




Menurut kisah beberapa penduduk setempat, salat tarawih kilat itu sudah berlangsung sejak 1800an. Alasannya, zaman dulu banyak warga desa yang bekerja, sehingga rakaat terawih dipercepat agar masyarakat bisa kembali bekerja. Sesederhana itu.

Uniknya, banyak warga yang tertarik untuk menjadi jamaah tarawih di pondok pesantren tersebut. Malah, tiap malamnya, selalu dipenuhi oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Blitar, Tulungagung, dan Kediri.

Pimpinan Ponpes , KH Dliya’uddin Azzamzami (45), membenarkan jika pihaknya selalu menggelar salat tarawih cepat. Ia juga menegaskan bahwa itu tidak mengurangi rukun atau syarat salat. Bahkan, tidak keluar dari syariat hukum Islam.

“Ini sudah tradisi sejak mbah saya dulu, derek dawuh poro sepuh (Semua orangtua) kita tidak mengubah tradisi, tidak melanggar syariat, tidak lepas dan keluar dari ajaran Islam, tidak keluar syariat tidak mengurangi syarat-syarat rukun salat,” kata KH Dliya’uddin.

Gus Dliya’ juga menambahkan, tarawih ini pertama kali dikenalkan pendiri pondok, KH Abdul Ghofur (alm) pada tahun 1907 bersamaan dengan berdirinya masjid. Ketika itu, selepas tarawih dan witir, para santri pondok biasanya melantunkan puji-pujian diiringi irama bedug masjid.

LIHAT YANG LAINNYA